Jumat, 17 Februari 2012

Cerpen (Sahabatku yang Malang)

       Dini. Ya… Dini adalah nama yang tak kan pernah berlalu dari benakku. Dia teman terbaik yang pernah kumiliki. Anaknya pandai, pendiam, dan dia sangat sayang padaku. Senang, sedih, suka, maupun duka kita selalu lalui bersama. 
       Saat aku bangun dan melihat jam warna pink kesukaanku…” Mama kenapa aku nggak dibangunin? “ aku berteriak sejadi-jadinya mungkin hingga radius 1 km. “ Kamu itu udah dibangunin  100 kali tapi tetep aja nggak bangun-bangun ! “ kata mamaku yang tak kalah kerasnya.
       Maklumlah, tadi malam ada pesta ulang tahun adik sepupuku. Pulangnya saja sampai jam satu. Mungkin karena lelahnya, aku tak mendengar jam bekerku berdering. Secepat mungkin aku lekas mandi, lalu aku berangkat ke sekolah.
       Sampai di sekolah aku langsung masuk ke kelas. Disana aku menemukan sosok yang sangat aku kenali. Tentu saja Dini. Aku pun langsung duduk dibangku sebelah Dini.
        “ Tumben kamu terlambat ? “ tanya Dini.    
        “ Ia nih… tadi malam ada acara ulang tahun adikku. Itu tuh, Diki. Jadi bangun kesiangan deh… “
        “ O… gitu. Oh iya, kamu udah ngerjain PR Matematika belum ? “
        “ Hah ? PR ? PR Matematika ? “
        “ Iya, pasti kamu belum ngerjain khan ? “
        “ Hehehe…” kataku sambil nyengir.
        “ Ya udah, ini ! Nyontek punya aku aja !”
        “ Bener nih ? Nggak papa ? “
        “ Iya… Cepetan keburu Pak Didik dateng loh ! “
       Secepat kilat aku menyalin semua jawaban Dini. Tak perlu ragu benar atau salah. Dijamin aku pasti dapat 100.
       Ting… tong…
       Bel sekolah berbunyi tanda istirahat. Karena aku ingin berterima kasih pada Dini, kuajak dia ke kantin sekaligus ku traktir. Ya, mungkin hanya itulah yang bisa kuberikan padanya.
       Hari demi hari, waktu demi waktu hingga akhirnya hari keramat itu datang.
       Kring… 
       Suara telepon di kamarku berdering. Nomer tak dikenal. Siapa ya ? dalam benakku.
       “ Hallo, Assalamu alaikum. “
       “ Walaikum salam, “ kata seseorang disana sambil terisak tangis.
       “ Maaf, ini siapa ya ? “
       “ Ini Ibu Rini, ibunya Dini. “ 
       “ O… iya, Bu, ada apa ? “
       “ Kamu bisa datang kesini ? “
       “ Memangnya ada apa, Bu ? “
       Tut… tut… tut… Sambungan terputus. Dengan hati penasaran, aku bergegas ke rumah Dini.
       Sesampainya di rumah Dini, aku melihat bendera kuning. Gubrak… siapa yang meninggal? Ayah Dini ? Tapi ayah Dini sudah meninggal sejak Dini berumur 3 tahun. Ibunya ? Tak mungkin, tadi khan ibunya Dini yang menelponku. Lantas siapa ?
Sampai didepan pintu rumah Dini aku terpaku sampai-sampai tak dapat berkedip. Dini. Dini sudah terbujur kaku disana. Aku langsung terjatuh dan air mata berlinang deras dipipiku. Aku tak menyangka, aku tak dapat mengira apa yang telah terjadi pada Dini. Tak lama, aku mendekat pada ibu Dini. 
       “ Kenapa bisa begini, Bu ? “ tanyaku sambil mengharap jawaban.
       “ Dini tertabrak mobil saat menyebrang, “ kata ibu Dini dengan terbata-bata. 
       Seakan tak ingin menambah sedih ibu Dini, aku berpindah tempat disebelah ibu-ibu yang melayat. Aku mengikuti semua prosesi pemakaman Dini.
       Dini, sahabat terbaikku. Selamat jalan untukmu. Kan ku kenang semua kenangan kita bersama. Jangan khawatir, aku akan menjaga ibumu. Tenaglah disana, Din. Aku akan selalu mendo’akanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar