Dini. Ya… Dini adalah nama yang tak kan pernah berlalu dari benakku. Dia teman terbaik yang pernah kumiliki. Anaknya pandai, pendiam, dan dia sangat sayang padaku. Senang, sedih, suka, maupun duka kita selalu lalui bersama.
Saat aku bangun dan melihat jam warna pink kesukaanku…” Mama kenapa aku nggak dibangunin? “ aku berteriak sejadi-jadinya mungkin hingga radius 1 km. “ Kamu itu udah dibangunin 100 kali tapi tetep aja nggak bangun-bangun ! “ kata mamaku yang tak kalah kerasnya.
Maklumlah, tadi malam ada pesta ulang tahun adik sepupuku. Pulangnya saja sampai jam satu. Mungkin karena lelahnya, aku tak mendengar jam bekerku berdering. Secepat mungkin aku lekas mandi, lalu aku berangkat ke sekolah.
Sampai di sekolah aku langsung masuk ke kelas. Disana aku menemukan sosok yang sangat aku kenali. Tentu saja Dini. Aku pun langsung duduk dibangku sebelah Dini.
“ Tumben kamu terlambat ? “ tanya Dini.
“ Ia nih… tadi malam ada acara ulang tahun adikku. Itu tuh, Diki. Jadi bangun kesiangan deh… “
“ O… gitu. Oh iya, kamu udah ngerjain PR Matematika belum ? “
“ Hah ? PR ? PR Matematika ? “
“ Iya, pasti kamu belum ngerjain khan ? “
“ Hehehe…” kataku sambil nyengir.
“ Ya udah, ini ! Nyontek punya aku aja !”
“ Bener nih ? Nggak papa ? “
“ Iya… Cepetan keburu Pak Didik dateng loh ! “
Secepat kilat aku menyalin semua jawaban Dini. Tak perlu ragu benar atau salah. Dijamin aku pasti dapat 100.
Ting… tong…
Bel sekolah berbunyi tanda istirahat. Karena aku ingin berterima kasih pada Dini, kuajak dia ke kantin sekaligus ku traktir. Ya, mungkin hanya itulah yang bisa kuberikan padanya.
Hari demi hari, waktu demi waktu hingga akhirnya hari keramat itu datang.
Kring…
Suara telepon di kamarku berdering. Nomer tak dikenal. Siapa ya ? dalam benakku.
“ Hallo, Assalamu alaikum. “
“ Walaikum salam, “ kata seseorang disana sambil terisak tangis.
“ Maaf, ini siapa ya ? “
“ Ini Ibu Rini, ibunya Dini. “
“ O… iya, Bu, ada apa ? “
“ Kamu bisa datang kesini ? “
“ Memangnya ada apa, Bu ? “
Tut… tut… tut… Sambungan terputus. Dengan hati penasaran, aku bergegas ke rumah Dini.
Sesampainya di rumah Dini, aku melihat bendera kuning. Gubrak… siapa yang meninggal? Ayah Dini ? Tapi ayah Dini sudah meninggal sejak Dini berumur 3 tahun. Ibunya ? Tak mungkin, tadi khan ibunya Dini yang menelponku. Lantas siapa ?
Sampai didepan pintu rumah Dini aku terpaku sampai-sampai tak dapat berkedip. Dini. Dini sudah terbujur kaku disana. Aku langsung terjatuh dan air mata berlinang deras dipipiku. Aku tak menyangka, aku tak dapat mengira apa yang telah terjadi pada Dini. Tak lama, aku mendekat pada ibu Dini.
“ Kenapa bisa begini, Bu ? “ tanyaku sambil mengharap jawaban.
“ Dini tertabrak mobil saat menyebrang, “ kata ibu Dini dengan terbata-bata.
Seakan tak ingin menambah sedih ibu Dini, aku berpindah tempat disebelah ibu-ibu yang melayat. Aku mengikuti semua prosesi pemakaman Dini.
Dini, sahabat terbaikku. Selamat jalan untukmu. Kan ku kenang semua kenangan kita bersama. Jangan khawatir, aku akan menjaga ibumu. Tenaglah disana, Din. Aku akan selalu mendo’akanmu.
Jumat, 17 Februari 2012
Jumat, 10 Februari 2012
Pidato (Permasalahan dalam Pertanian)
Assalamu alaikum wr.wb.
Yth. Bapak Ir. Achmad Yulianto selaku
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman, Bapak Kepala Desa Cangkringan
serta para pengurus desa, dan para petani yang saya banggakan.
Salam Sejahtera bagi kita semua !
Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih atas kehadiran
saudara sekalian untuk membahas Bidang Pertanian di desa tercinta kita ini.
Tak lupa marilah kita panjatkan puja dan puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmatnya kita bisa
berkumpul disini dengan keadaan sehat wal’afiat.
Musim penghujan telah tiba, marilah kita beramai-ramai
menanam padi, karena inilah waktu yang tepat untuk menanamnya. Mengapa demikian
? Karena tanaman padi memerlukan air yang cukup, malah lebih dari cukup. Selain
itu, kita juga harus memperhatikan bahkan mencegah agar tidak terjadinya gagal
panen padi musim ini.
Beberapa faktor yang menyebabkan kita mengalami gagal
panen ialah cuaca yang tidak menentu, serangan hama, dan tidak adanya pencegahan
agar tidak terjadinya gagal penen. Beberapa macam hama diantaranya hama tikus,
hama penggerek batang, dan tungro (hama wereng hijau). Pada saat ini populasi
hama tikus lebih tinggi daripada hama lainnya. Pemerintah pun turun tangan
dalam pemberantasan hama tikus, dengan cara melepaskan ribuan ekor ular. Namun,
usaha yang dilakukan pemerintah seakan sia-sia. Mengapa ? Karena tidak adanya
kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah desa, para petani, dan masyarakat
disekitarnya.
Nah, maka dari itu, kita juga harus membantu upaya
pemerintah dalam membasmi hama. Dengan cara menutup lubang tikus, menyamprotkan
pestisida, dan insektisida. Cara yang
lain juga bisa, dengan mengganti tanaman padi dengan menanamkan sayur-sayuran
seperti : cabai, sawi, selada, dan juga tembakau. Diharapkan dengan cara
tersebut, kita bisa merauk keuntungan. Denagan keuntungan tersebut kita bisa menyejahterakan
masyarakat, terutama para petani dan penduduk yang kurang mampu.
Dengan semangat gotong-royong, kita pasti bisa !
Sekian pidato dari saya, mohon maaf atas kesalahan
yang disengaja maupun tidak disengaja, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.
Amin..
Wabilahi taufik wal hidayah, wassalamu alaikum wr. wb.
Jumat, 03 Februari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
